Xylitol, Pemanis yang Banyak Manfaatnya

Galeri ini berisi 1 foto.

Xylitol adalah senyawa kimia organik yang digunakan sebagai pemanis buatan pengganti gula. Rumus kimia xylitol adalah (CHOH)3(CH2OH)2. Gula alkohol ini dapat dijumpai secara alami pada berbagai buah dan sayuran, s Saat ini xylitol banyak dimanfaatkan untuk memberi rasa manis pada … Lanjut membaca

By Nunungnugraha

Zat Warna pada Obat dan Makanan

Zat pewarna makanan digunakan untuk mengubah warna asli suatu makanan atau minuman, juga obat-obatan. Selain itu, karena keamanannya, zat pewarna ini juga digunakan pada berbagai jenis aplikasi non makanan, seperti kerajinan rumah tangga atau mainan edukatif.

Warna-warna tertentu dikaitkan dengan persepsi seseorang tentang cita rasa. Biasanya makanan atau minuman yang beraroma strawberry misalnya, maka pembuatnya akan memberikan zat warna merah. Begitu pun untuk cita rasa lainnya, seperti hijau untuk rasa apel atau melon, kuning untuk rasa nanas atau jeruk, dan coklat untuk karamel.

Zat pewarna juga digunakan untuk mengurangi variasi warna yang terjadi pada komoditas tertentu yang secara alami mengalami perubahan warna akibat musim, pengolahan, dan penyimpanan. Contoh komoditas ini antara lain jeruk florida dan ikan salmon.

Secara umum, tujuan ditambahkannya zat pewarna pada suatu makanan/minuman adalah untuk memenuhi maksud-maksud berikut ini:

1. Memberi identitas pada makanan/minuman

2. Melindungi rasa dan vitamin tertentu dari kerusakan akibat cahaya

3. Melindungi komoditas dari pudarnya warna akibat cahaya, atau suhu yang ekstrem.

4. Menutupi variasi warna alami

5. Memperkuat warna alami komoditas

Zat warna tersebut terbagi atas zat warna yang sintetis dan yang alami. Zat warna sintetis meliputi FD&C Blue No.1 (atau brilliant blue FCF atau E133), FD&C Red No.40 (atau allura red AC atau E129), FD&C Yellow No.5 (atau tartrazine atau E102), FD&C Blue No.2 (atau indigotine atau E132), FD&C Green No.3 (atau fast green FCF atau E143), FD&C Red No.3 (atau erythrosine atau E127), dan FD&C Yellow No.6 (atau sunset yellow FCF atau E110). Zat warna tersebut disebut zat warna primer, sedangkan campuran dari zat-zat warna tersebut dinamakan warna sekunder.

Selain yang disebutkan di atas, terdapat pula zat warna alami, contohnya meliputi warna karamel (dari gula yang dikaramelkan, digunakan untuk minuman kola dan kosmetik), annatto (pewarna kuning kemerahan yang berasal dari biji tanaman Achiote), pewarna hijau dari alga chlorella, cochineal (zat warna merah dari serangga Dactylopius coccus), kunyit, paprika, serta elderberry.

Simbol FD&C berarti bahwa FDA (the Food and Drug Administration) telah menyetujui penggunaan zat warna bersangkutan pada makanan, obat, dan kosmetik. Sedangkan simbol E, seperti pada zat warna E143, berarti bahwa zat warna tersebut telah disetujui untuk digunakan di wilayah Uni Eropa.

Zat warna alami lebih aman untuk digunakan. Oleh karena itu penggunaannya sangat dianjurkan.

Zat warna sintetis/buatan memiliki efek yang relatif merugikan, khususnya pada anak-anak. Hal ini dapat dibuktikan dengan penelitian di Amerika Serikat yang menunjukkan bahwa terdapat peningkatan nilai akademis siswa dan penurunan masalah disipliner setelah bahan pangan sintetis, termasuk pewarna sintetis, dihilangkan dari makanan mereka Zat pewarna makanan digunakan untuk mengubah warna asli suatu makanan atau minuman, juga obat-obatan. Selain itu, karena keamanannya, zat pewarna ini juga digunakan pada berbagai jenis aplikasi non makanan, seperti kerajinan rumah tangga atau mainan edukatif.

Warna-warna tertentu dikaitkan dengan persepsi seseorang tentang cita rasa. Biasanya makanan atau minuman yang beraroma strawberry misalnya, maka pembuatnya akan memberikan zat warna merah. Begitu pun untuk cita rasa lainnya, seperti hijau untuk rasa apel atau melon, kuning untuk rasa nanas atau jeruk, dan coklat untuk karamel.

Zat pewarna juga digunakan untuk mengurangi variasi warna yang terjadi pada komoditas tertentu yang secara alami mengalami perubahan warna akibat musim, pengolahan, dan penyimpanan. Contoh komoditas ini antara lain jeruk florida dan ikan salmon.

Secara umum, tujuan ditambahkannya zat pewarna pada suatu makanan/minuman adalah untuk memenuhi maksud-maksud berikut ini:

1. Memberi identitas pada makanan/minuman

2. Melindungi rasa dan vitamin tertentu dari kerusakan akibat cahaya

3. Melindungi komoditas dari pudarnya warna akibat cahaya, atau suhu yang ekstrem.

4. Menutupi variasi warna alami

5. Memperkuat warna alami komoditas

Zat warna tersebut terbagi atas zat warna yang sintetis dan yang alami. Zat warna sintetis meliputi FD&C Blue No.1 (atau brilliant blue FCF atau E133), FD&C Red No.40 (atau allura red AC atau E129), FD&C Yellow No.5 (atau tartrazine atau E102), FD&C Blue No.2 (atau indigotine atau E132), FD&C Green No.3 (atau fast green FCF atau E143), FD&C Red No.3 (atau erythrosine atau E127), dan FD&C Yellow No.6 (atau sunset yellow FCF atau E110). Zat warna tersebut disebut zat warna primer, sedangkan campuran dari zat-zat warna tersebut dinamakan warna sekunder.

Selain yang disebutkan di atas, terdapat pula zat warna alami, contohnya meliputi warna karamel (dari gula yang dikaramelkan, digunakan untuk minuman kola dan kosmetik), annatto (pewarna kuning kemerahan yang berasal dari biji tanaman Achiote), pewarna hijau dari alga chlorella, cochineal (zat warna merah dari serangga Dactylopius coccus), kunyit, paprika, serta elderberry.

Simbol FD&C berarti bahwa FDA (the Food and Drug Administration) telah menyetujui penggunaan zat warna bersangkutan pada makanan, obat, dan kosmetik. Sedangkan simbol E, seperti pada zat warna E143, berarti bahwa zat warna tersebut telah disetujui untuk digunakan di wilayah Uni Eropa.

Zat warna alami lebih aman untuk digunakan. Oleh karena itu penggunaannya sangat dianjurkan.

Zat warna sintetis/buatan memiliki efek yang relatif merugikan, khususnya pada anak-anak. Hal ini dapat dibuktikan dengan penelitian di Amerika Serikat yang menunjukkan bahwa terdapat peningkatan nilai akademis siswa dan penurunan masalah disipliner setelah bahan pangan sintetis, termasuk pewarna sintetis, dihilangkan dari makanan mereka.

By Nunungnugraha

Hormon Kehamilan, Progesteron

Galeri ini berisi 1 foto.

Progesteron adalah hormon steroid yang berperan dalam siklus menstruasi wanita, mendukung proses kehamilan, dan embriogenesis. Progesteron tergolong kelompok hormon progestogen, dan merupakan hormon progestogen yang banyak terdapat secara alami. Tanaman Dioscorea mexicana mengandung senyawa steroid diosgenin, yang dapat diubah menjadi … Lanjut membaca

By Nunungnugraha

KUSTA

Galeri ini berisi 1 foto.

Istilah KUSTA berasal dari bahasa Sansekerta, yakni kushtha berarti kumpulan gejala-gejala kulit secara umum. Penyakit kusta atau lepra disebut juga Morbus Hansen, sesuai dengan nama yang menemukan kuman yaitu Dr. Gerhard Armauwer Hansen pada tahun 1874 sehingga penyakit ini disebut … Lanjut membaca

By Nunungnugraha

FRAKTUR ujung akar / FRAGMEN post ektraksi

FRAKTUR ujung akar / FRAGMEN post ektraksi

A.LATAR BELAKANG

Komplikasi pencabutan gigi banyak jumlahnya dan bervariasi, serta beberapa di antaranya dapat terjadi meskipun sudah dilakukan tindakan sebaik mungkin.
Saya menyadari ini bukan kompetensi saya karena tuntutan profesi dan keadaan di tempat kerja yang mendesak dan juga panggilan nurani untuk menolong sesama,memaksa saya untuk melakukan pencabutan gigi dewasa.
B.TUJUAN
* Untuk berbagi pengalaman kerja dengan rekan teman sejawat dan rekan kerja
* Untuk mengetahui cara menghindari dan mengatasi fraktur fragmen post ekstraksi
C.KERANGKA KONSEP
Definisi pencabutan gigi yang ideal adalah pencabutan tanpa rasa sakit satu gigi utuh atau akar gigi dengan trauma minimal terhadap jaringan pendukung gigi, sehingga bekas pencabutan dapat sembuh dengan sempurna dan tidak terdapat masalah prostetik di masa mendatang.
Indikasi dan kontraindikasi pencabutan gigi
1.Indikasi
- Gigi yang sudah karies dan tidak dapat diselamatkan dengan perawatan apapun.
- Gigi pecah atau patah, dimana garis pecah setengah mahkota dari akar
- Penyakit periodontal. Sebagai panduan, kehilangan setengah dari kedalaman tulang alveolar yang normal – atau ekstensi poket ke bifurkasi akar gigi bagian posterior atau mobilitas yang jelas berarti
pencabutan gigi tidak bisa dihindari lagi.
2. Kontra indikasi
- Apabila pasien tidak menghendaki giginya dicabut
- Gigi yang masih dapat dirawat/dipertahnkan dengan perawatan konservasi, endodontic dan sebagainya.
- Ujung akar / fragmen : sisa – sisa dr struktur yg normalnya berada di dalam processus alveolaris.
- Dapat ditolerir dan jarang mengakibatkan adanya reaksi benda asing / infeksi
- Keputusan pengambilan untuk menghindari cidera atau resiko terdorongnya gigi ke dlm sinus maxillaris,
fosa infratemporalis, canalis mandibularis / submandibularis

Fraktur pada gigi atau restorasi didekatnya, kebanyakan merupakan akibat terlalu kuatnya tekanan yg dikenakan melalui elevator.
Cedera pd gigi antagonis biasanya terjadi akibat pencabutan eksplosif yaitu gigi terungkit secara tdk diperkirakan dr alveolus akibat tekanan berlebih ke arah oklusal / sejajar.

D. PEMBAHASAN kasus
Pasien perempuan usia + 47 th
Diagnosa gigi 4.6 KMP ( sondasi + karies profunda)
Pemeriksaan sesuai SOP, TTV normal
Anastesi infiltrasi lokal dg cythoject
Tunggu 3 menit, tes anastesi
Mulai pencabutan dengan bein lurus,terjadi mobilitas goyang
Saya ambil dengan tang akar biyoned
Gigi berhasil dicabut
Setelah di tes soket gusi akar satunya memang terasa keras tapi saya meyakinkan kepada pasien tidak apa mungkin tulang, kalaupun itu sisa akar dengan berjalannya waktu nanti akan naik sendiri,dan kemudian gigi diambil kembali.
Pencabutan selesai,pemberian komter dan resep
Pasien pulang dengan instruksi jika ada yang dikeluhkan segera datang ke puskesmas.
Satu hari pasien datang kembali dengan keluhan ada rasa ngeres di gusi bekas cabutan dan sangat mengganggu
Saya periksa ulang memang ada rasa kasar dan keras di soket tsb
Karena keterbatasan alat,dan untuk memantapkan hati pasien, serta mengantisipasi saya merujuk pasien ke RS.
CARA PENANGANAN FRAKTUR FRAGMEN
1.Pertama pendekatan konservatif dr alveolus dg menggunakan root picks,elevator cryer / file saluran
akar (menghabiskan byk waktu )
2.Pembuatan flap untuk mndpat jalan msk ke akar, tulan dipotong dg alevator kecil, alevator periosteal / instrumen plastis
3.Jika tidak berhasil dan sulit, dibuat lubang kaitan pd akar untuk insersi elevator.
Seperti prosedur flap, operasi diikuti dg irigasi saline steril dan pemeriksaan bag yg dioperasi sblm
melakukan penghalusan tulang dan penjahitan.

E. KESIMPULAN
Sebelum melakukan tindakan ekstraksi, harus bisa menganamnesis dengan cermat
Jika ada rasa ragu untuk tindakan tersebut sebaiknya dirujuk ke spesialis bedah mulut
Garis fraktur dapat dilihat dg film periapikal / rongent panoramik
Jika terjadi fraktur fragmen memberitahu pasien mengenai pertimbangan resiko / manfaat pengambilan

Upaya Kesehatan gigi dalam mendukung MDGs

Pada tahun 2000, Pemerintah Indonesia, bersama-sama dengan 189 negara menghadiri Pertemuan Puncak Milenium di New York dan menandatangani Deklarasi Millennium Development Goals (MDGs) yang mempunyai 8 tujuan penting. Upaya untuk mewujudkan tercapainya tujuan-tujuan tersebut merupakan tantangan dalam pembangunan di seluruh dunia, termasuk di dalamnya pembangunan kesehatan.
Penyakit Gigi-Mulut merupakan faktor risiko dan fokal infeksi penyakit sistemik. Seseorang dikatakan tidak sehat bila tidak memiliki gigi-mulut yang sehat. Hampir seluruh masyarakat dunia menderita penyakit gigi dan mulut. Berdasarkan data Riskesdas 2007, 75% penduduk Indonesia mengalami riwayat karies gigi dengan tingkat keparahan gigi (indeks DMF-T) sebesar 5 gigi setiap orang. Dilaporkan juga bahwa 23% penduduk yang menyadari dirinya bermasalah gigi dan mulut, 30% diantara mereka menerima perawatan atau pengobatan dari tenaga profesional gigi. Ditemukan pula angka keperawatan yang sangat rendah, terjadinya keterlambatan perawatan yang tinggi, dan kerusakan gigi sebagian besar berakhir dengan pencabutan.
Kesehatan Gigi dapat membantu upaya percepatan Millenium Development Goals (MDGs), antara lain:
1. Memberantas kemiskinan dan kelaparan antara lain: sakit gigi, infeksi gigi dan ompong mengarah pada malnutrisi dan nutrisi kurang, masyarakat miskin terkena imbas akibat biaya pengeluaran untuk perawatan gigi, masalah gigi dan mulut mengarah pada ketidakhadiran pekerja dan selanjutnya kehilangan penghasilan.
2. Mencapai pendidikan dasar universal: masalah gigi mengakibatkan ketidakhadiran murid ke sekolah, sakit gigi memiliki efek terhadap konsentrasi, waktu tidur dan prestasi anak di sekolah.
3. Mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan: ibu perlu tahu mengenai kebersihan gigi dan mulut yang mendasar serta makanan sehat bagi anak, karena perempuan hidup lebih lama, mereka harus menjaga kesehatan gigi dan mulut mereka seumur hidup.
4. Mengurangi angka kematian anak: infeksi gigi, noma (gangrenous stomatitis) dan tradisi yang berbahaya sehubungan dengan gigi dan mulut dapat mengakibatkan kematian
5. Memperbaiki kesehatan ibu hamil : kesehatan mulut yang buruk pada ibu hamil dapat memberikan efek terhadap kelahiran dan berat badan bayi, disamping terhadap kesehatan gigi dan mulut bayi nantinya.
6. Memberantas HIV/AIDS, malaria dan penyakit-penyakit lainnya: terdapat hubungan antara HIV/AIDS dengan kesehatan gigi dan mulut, dan permasalahan yang ditemukan dalam rongga mulut dapat menjadi indikator dini terjadinya infeksi
7. Meyakinkan keberlangsungan lingkungan hidup: penanganan kesehatan gigi dan mulut melibatkan penggunaan teknologi yang sesuai, kontrol infeksi yang efektif serta pembuangan limbah medis yang aman
8. Membangun kerjasama global untuk perkembangan: meliputi kerjasama dalam upaya mempromosikan kesehatan gigi dan mulut diantara para stakeholder, akses terhadap obat-obat mendasar, perawatan gigi dan mulut dasar dan pencegahan
Berdasarkan Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, pelayanan kesehatan gigi dan mulut dilakukan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk peningkatan kesehatan gigi, pencegahan penyakit gigi, pengobatan penyakit gigi, dan pemulihan kesehatan gigi yang dilakukan secara terpadu, terintegrasi dan berkesinambungan. Tindakan yang dapat dilakukan untuk pengembangan pelayanan kesehatan Gigi dan Mulut antara lain melalui:
1. Upaya promosi, pencegahan dan pelayanan kesehatan gigi dasar di Puskesmas dan Puskesmas pembantu (pustu).
2. Upaya promosi, pencegahan dan pelayanan kesehatan gigi perorangan di RS.
3. Upaya promosi, pencegahan dan pelayanan kesehatan di sekolah melalui Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) dari tingkat TK sampai SMA yang terkoordinir dalam UKS.
4. Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) dalam bentuk Usaha Kesehatan Gigi Masyarakat (UKGM);
5. Membangun kemitraan kesehatan gigi dan mulut.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.
By Nunungnugraha